ajakan baru…
March 1st, 2009 by irexmastermari brgabung….
http://r.yuwie.com/irexmaster/
mari brgabung….
http://r.yuwie.com/irexmaster/
Everyone feels the pain of loss the same
We know that pain
You’re working for your justice…
…and I for mine
We’re just ordinary poeple driven to revenge in the name of justice
But if revenge is called justice
Than that justice breeds yet more revenge…
and become a chain of hatred
Living within it..
Aware of the past
Predicting the future
That’s what it means to know history
We can’t help
but know that people can never understad each other
fiuh..
cita2ku trcapai…
thx god..
pagi ni terkaget2..
bangun dlm suasana matahri yg "pemalu"..
ditambah lagi..liat my younger brother pke srgm no 10..
"destiny..isn’t it?!"
apa no punggung jg diturunkan scr genetis?!
kdg..when i see him..
so long so close deh..
sprti nostalgia..melihat diriku di masa lalu..
trnyta kdng nybelin ya..
tp ttp ad bedanya..
aku dah dpt no 10 nya pas kls 6 sd..
dia pas 3 smp..
moga2 aj matanya g minus..
aplgi minus sbnyk kakaknya..
ho..ho..ho..
a smile is a curve that sets everything straight….but,some times I need Colours in My Life….
harapan tinggal harapan..ketika teringat 2007…smua sudh lewat
skrg 2008 bung!!!
masi bertahankah 4-5-1…usangkah?…
atau beralih pada yg lain…
masihkah menyenangi kompleksitas yg simple….
sembari tetap berharap bisa stabil dan efektif
(sesuatu yg diimpikan tp tak jadi nyata)
atau beralih pada hal yg lebih konservatif…
TIDAK!!! (ingat italia)
instrumen tetaplah instrumen…
hanyalah sarana penyambung…
apapun itu…
esensinya sama….
2008…jadikanlah kesederhanaan menjadi lebih indah…
bukan skedar superficial…
esensial…(the last word)
Aku bukanlah menara yang kau sibak di pagi buta itu menunggu terpaan perlahan yang membelai hangat. Aku bukanlah sauh yang dapat dicerapkan jangkarnya kedalam dermaga tepian laut yang dangkal itu. Aku mungkin manusia yang bebas seperti angin yang berhembus atau mungkin air yang mengalir di setiap waktu. Aku bukanlah malam yang selalu menyelimutimu dengan naungan pohon dan lenguhan burung hantu dalam terpaan sepotong cahaya bulan.
Kucoba merangkai jeda, mengayuh lajunya sauh dengan menuju yang terdalam, meniti satu persatu uraian langkah yang perlahan dan lahan. Kusibak dengan tenaga yang mungkin makin melemah karena tiada lagi tenaga untuk merengkuh. Tak kutemukan lagi kepingan yang menentu dan menertawainya bersama di dalam rengkuhan senja, warna langit yang membisu tahu dan menyertai.
Dalam ligat yang merenda disertai sejuta air yang berbisik membelah lajunya sampan perlahan. Dalam kesederhanaan yang setiap titiknya adalah pemberhentian waktu yang selalu dinanti setiap manusia, yang akan berangkat dari dermaga dengan sampan yang hanya bisa dinaiki oleh seorang diri.
Aku telah memutuskan untuk pergi dengan sampan yang seorang diri menaikinya. Tanpa ada seorangpun yang menemani, tidak dia yang selalu mengirimiku air di kala dahaga ketika aku mengayunkan cangkul di tanah gersang dan membabat jerami di kala kesadaran menyertai, juga kutinggalkan sauh yang ternoda dengan adanya geliatmu di tepian sungai permata yang menyibakkan zamrud dan ayunanan pelangi.
Ke sebuah tempat, yang tak seorang pun dapat memikirkannya. Aku tidak menyesal meninggalkan lenguhan sapi yang kuambil susunya untuk kuminum dipagi hari untuk sekedar menghangatkan badan, sambil melinting tembakau yang kau tanam di kebunmu dan kau membawakannya untukku setelah kau iris iris dan kau jemur, dan dipersembahkan untukku. Aku menuju dermaga dan akan kutunggu sampan itu.
Dermaga itu adalah dermaga sepi dan sunyi dan tak seorangpun menghendaki menuju kesana, meskipun orang tahu mentari terbenam disana dan nampak indahnya. Dermaga itu ada sebelum orang datang pertama kalinya disini. Dan memberikan cerita dan misteri misteri yang tak dapat kita ungkap.
Orang yang lelah dan penat pergi menju dermaga itu, menunggu matahari terbenam dan menaiki sampan itu, menuju arah air mengalir dan tak pernah kembali mengikuti terbenamnya mentari.
Aku bukanlah lelah dan penat, katakan itu pada semua orang. Aku hanya menunggu di dermaga, menunggu matahari terbenam, dan akan menaiki sampan itu.
….
Kemudian…
Degup jantung yang bermuara pada ceruk kecil
Bernama samudera diantara tatapanmu
Menahanku pada galau pekat yang mengabut
Menyambangiku dalam gurat jarak bernama spasi
Menghadirkan jeda ketika kau berada begitu rapat
Entah pada langkah keberapa harus kuhentikan
Mengejawantahkanmu meski hanya sebatas mimpi
Dan seperti biasa
Aku hanya mampu tergugu
Membuncahkan rasa entah pada siapa
Dan seperti biasa
Aku hanya mampu merindu
Kembali duduk di keningmu
Hingga sajakku
Menjadi bisu
Menjadi batu
……