sampan di dermaga

Aku bukanlah menara yang kau sibak di pagi buta itu menunggu terpaan perlahan yang membelai hangat. Aku bukanlah sauh yang dapat dicerapkan jangkarnya kedalam dermaga tepian laut yang dangkal itu. Aku mungkin manusia yang bebas seperti angin yang berhembus atau mungkin air yang mengalir di setiap waktu. Aku bukanlah malam yang selalu menyelimutimu dengan naungan pohon dan lenguhan burung hantu dalam terpaan sepotong cahaya bulan.

Kucoba merangkai jeda, mengayuh lajunya sauh dengan menuju yang terdalam, meniti satu persatu uraian langkah yang perlahan dan lahan. Kusibak dengan tenaga yang mungkin makin melemah karena tiada lagi tenaga untuk merengkuh. Tak kutemukan lagi kepingan yang menentu dan menertawainya bersama di dalam rengkuhan senja, warna langit yang membisu tahu dan menyertai.

Dalam ligat yang merenda disertai sejuta air yang berbisik membelah lajunya sampan perlahan. Dalam kesederhanaan yang setiap titiknya adalah pemberhentian waktu yang selalu dinanti setiap manusia, yang akan berangkat dari dermaga dengan sampan yang hanya bisa dinaiki oleh seorang diri.

Aku telah memutuskan untuk pergi dengan sampan yang seorang diri menaikinya. Tanpa ada seorangpun yang menemani, tidak dia yang selalu mengirimiku air di kala dahaga ketika aku mengayunkan cangkul di tanah gersang dan membabat jerami di kala kesadaran menyertai, juga kutinggalkan sauh yang ternoda dengan adanya geliatmu di tepian sungai permata yang menyibakkan zamrud dan ayunanan pelangi.

Ke sebuah tempat, yang tak seorang pun dapat memikirkannya. Aku tidak menyesal meninggalkan lenguhan sapi yang kuambil susunya untuk kuminum dipagi hari untuk sekedar menghangatkan badan, sambil melinting tembakau yang kau tanam di kebunmu dan kau membawakannya untukku setelah kau iris iris dan kau jemur, dan dipersembahkan untukku. Aku menuju dermaga dan akan kutunggu sampan itu.

Dermaga itu adalah dermaga sepi dan sunyi dan tak seorangpun menghendaki menuju kesana, meskipun orang tahu mentari terbenam disana dan nampak indahnya. Dermaga itu ada sebelum orang datang pertama kalinya disini. Dan memberikan cerita dan misteri misteri yang tak dapat kita ungkap.

Orang yang lelah dan penat pergi menju dermaga itu, menunggu matahari terbenam dan menaiki sampan itu, menuju arah air mengalir dan tak pernah kembali mengikuti terbenamnya mentari.

Aku bukanlah lelah dan penat, katakan itu pada semua orang. Aku hanya menunggu di dermaga, menunggu matahari terbenam, dan akan menaiki sampan itu.
….

Leave a Reply